• Home
AndilineTheaPranasari's project. Do not copy without any permission. Powered by Blogger.
facebook twitter instagram Email

carpe diem

when life gives you lemon, suck it anyway.

Bertumpu pada satu keyakinan bahwa cuaca yang baik tidak boleh dilewatkan dengan berdiam di rumah, serta perjumpaan kembali dengan teman sepelarian, kami berlima menempuh perjalanan ke daerah Ampel di mana Air Terjun Semuncar terletak. Ini bukan kali pertama saya berkunjung. Kunjungan pertama beberapa bulan yang lalu cukup berkesan karena bentang alam yang indah juga jalur menantang yang jujur sering kali membuat saya ingin menyerah di tengah. Namun, perjalanan kedua kali ini memberi kesan begitu berbeda. Selain mental dan fisik yang lebih siap, cuaca yang lebih cerah, saya juga punya keyakinan kuat dalam hati bahwa perjalanan ini akan memberi begitu banyak cerita, makna, dan refleksi. 
Kali ini kami memilih untuk menyediakan lebih banyak waktu untuk bersantai, makan indomie, ngopi dan bermain air di air terjun yang lebih kecil dan lebih sepi. Kenikmatan yang kemudian membuat hati saya terasa sangat hangat dan penuh. Jarang saya bisa menikmati alam sebagaimana adanya. Apa yang tersedia sekarang terlalu banyak dipoles untuk sesuatu yang fana. Kenyataan yang saya alami beberapa hari lalu membuat saya belajar untuk mencintai kenyataan lebih dalam lagi. To be present in reality is a form of self-love. Semenakutkan atau semenyenangkan kenyataan itu, semuanya harus dihadapi dengan hati yang ikhlas dan lapang. Itulah yang membuat langkah kita lebih pasti dan terasa jauh lebih ringan untuk dilalui. Doubts and fears are inevitable. Tinggal bagaimana kita mau mengolah itu semua menjadi semangat bagi kita untuk bergerak maju menuju kenyataan-kenyataan lainnya. Berhenti atau melangkah mundur hanya membawa kita pada posisi-posisi traumatis yang sudah pernah kita lalui sebelumnya. Hanya dengan melangkah maju kita bisa tau keindahan-keindahan yang tidak pernah kita tau sebelumnya. 
Perjalanan lalu seolah menjadi miniatur hidup saya. Berbatu, licin, berbahaya, melelahkan, dan tidak pasti. Banyak kali saya mengeluh. Sering kali saya ingin berhenti. Pada akhirnya saya memilih untuk istirahat sejenak, mengumpulkan tenaga, hingga sampai juga di mata air yang menyegarkan dan menengkan.
Terima kasih semesta untuk kebaikan-kebaikan kemarin, hari ini, juga besok. Saya masih akan mengeluh, tapi saya tidak akan berhenti. 










 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments



Untuk orang-orang yang selalu ada,
terima kasih karena selalu ada, 
selalu mendoakan, 
selalu memikirkan, 
memberi perhatian dan semangat. 
sekecil apapun
maaf karena sering kali tidak bisa selalu ada
karena di masa kehidupan saat ini, dengan kesibukan yang berbagai rupa 
percakapan sekecil apapun bisa jadi sangat berharga
dan makin sadar bahwa waktu adalah uang, sangat langka tidak perlu disia-siakan. 
banyak hal penting yang bisa dipikirkan dan dibicarakan, 
hal-hal yang membangun baik karakter, pola pikir dan wawasan, kebijaksanaan. 
membentuk hidup yang bisa membawa manfaat buat orang lain dan membawa sukacita. 
senyum. 
bahwa boleh berambisi, boleh bermimpi 
tapi jangan lupa berjuang 
dan jangan sampai mimpi itu menyakiti orang lain. 
karena ada harga yang harus dibayar. 
mengajarkan bahwa menjadi ada bukan sekadar raga tapi juga jiwa,
adalah terutama
terima kasih
untuk pelajaran tentang mempergunakan waktu dengan sebaik mungkin 
supaya setiap hal yang dilakukan bisa diselesaikan dengan efektif. 
untuk beropini dengan bijak, 
jangan ragu untuk berpendapat dan mengutarakan ideologi yang kamu percayai, 
karena dengan begitu orang bisa menilai karaktermu. 
untuk melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati
jujur pada dan tentang diri sendiri, 
itu yang akan membentuk karaktermu dan membuat orang lain menyukaimu. 
untuk menjadi rendah hati, 
utamakan orang lain, 
tapi jangan sampai lupa sama prioritas hidup; 
kadang lebih baik jalan sendiri daripada jalan bersama tapi nggak maju kemana-mana. 
manfaatkan waktu yang ada sebaik-baiknya, 
seberguna-bergunanya, 
karena belum tentu yang kamu inginkan punya dua nyawa.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kala itu, delapan tahun lalu, tujuh gadis berseragam putih biru duduk di depan ruang kelas mereka, bersantai sembari menunggu jam pelajaran tambahan untuk persiapan Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama dimulai. Salah satu dari mereka berujar, "Eh, kita kan bertujuh, gimana kalau kita kasih nama 'semes' untuk gang kita, mirip sama nama boyband yang lagi naik daun". Pertemanan yang akhirnya menyatukan enam orang Muslim, termasuk satu orang laki-laki yang kemudian bergabung dalam kelompok, dan dua orang Kristen, termasuk aku.
Lahir dari sebuah keluarga Kristen yang taat tidak lantas membatasiku berteman dengan teman-teman berkeyakinan lain. Orang tuaku bahkan mendorong aku masuk ke sekolah negeri, agar aku punya kesempatan untuk memahami dunia yang sangat beragam. Sayangnya, gejala gegar budaya di awal tahun ajaran mendorong aku untuk hanya berteman dengan orang-orang yang aku kenal dari kelompok persekutuan doa Kristen di sekolah. Aku tidak sama sekali antipati, namun sering kali menolak ajakan untuk sekadar berkumpul di kafe sepulang sekolah.
Meski lambat laun aku mulai bisa beradaptasi dan bersahabat dengan beberapa teman Muslim, tetap aneh rasanya ketika kami kemudian sering berkumpul pada bulan Ramadhan untuk mengikuti acara buka bersama, ketika aku bahkan sama sekali tidak berpuasa. Teman-teman tetap mengundangku datang, "anggap saja ajang reuni" kata mereka. Satu hal yang menarik perhatianku, mereka ternyata tidak pernah sekalipun mengucapkan 'Selamat Natal' atau selamat-selamat lain saat aku merayakan hari raya keagamaanku. Aku tersinggung. Apalagi beberapa saat kemudian muncul isu pelarangan mengucapkan 'Selamat Natal' oleh salah satu lembaga Muslim. Hal itu tanpa sadar memengaruhiku untuk semakin mengurangi intensitas untuk bergaul dengan teman-teman Muslim di sekolah.
Sampai pada akhirnya di kelas sembilan, aku terpilih sebagai anggota panitia acara kelulusan. Di situlah aku yang awalnya merasa minder untuk menjadi satu-satunya panitia yang beragama Kristen, kemudian berani untuk membuka diri. Menunggu mereka sholat bukan lagi menjadi masalah, toh rapat di hari Minggu selalu dilaksanakan setelah ibadahku selesai. Berteman dengan mereka ternyata tidak seburuk itu. Aku justru mendapat pemahaman baru tentang Islam yang sebelumnya sama sekali tidak aku ketahui. Aku juga memahami bahwa toleransi memiliki makna yang lebih dari sekadar mengucapkan selamat di setiap perayaan.
Toleransi adalah perihal kemampuan kita untuk berinteraksi dengan orang lain tanpa terlebih dahulu melabeli mereka dengan label-label sosial mereka, yang bisa jadi mereka dapatkan melalui paksaan. Karena bisa jadi, apa yang kita ketahui hanyalah pintu gerbang menuju istana megah yang berisi pengalaman-pengalaman hidup yang luar biasa. Bahwa toleransi adalah usaha berkesinambungan untuk menjadi sejajar dengan orang lain, tanpa berusaha untuk menarik mereka ke posisi di mana kita berada. Kini, ketika aku telah memiliki pola pikir yang jauh lebih dewasa dibanding diriku kala itu, aku mulai bisa merenungkan pengalaman itu.
Apakah menjadi minoritas adalah takdir atau pilihan? Dan apakah minoritas merupakan ide yang benar-benar ada atau hanya sekadar pola yang dibentuk untuk mengkotak-kotakan manusia? Menjadi minoritas harusnya bukan menjadi hak istimewa seseorang untuk menuntut perubahan, tapi melakukan perubahan.  Kesempatan untuk membangun dialektika perlu dimanfaatkan untuk memahami lokus, sehingga perjumpaan dengan seseorang untuk pertama kalinya tidak akan lagi mendorong kita untuk secara otomatis menempatkan diri dalam hirarki kami dan mereka, tapi kita.

Salatiga, 7 November 2018.
Ditulis untuk Aksi Jalan Damai #KitaMinoritas
Share
Tweet
Pin
Share
No comments



Is it the same or is there any other sun which will shine on the other day? As far as I know, there is only one sun exist in the solar system, but somehow it brings different colors and vibes everyday. It's been the 15th day of 2018 and my 5th month of living temporarily in Japan. A lot of life-changing experiences happened during these past few months which were exciting and draining at the same time. It feels like the hell of a ride, sometimes, but I do enjoy it eventually. Everything changes very quickly that I vaguely remember every single details of it, it just happened one day and a complete different thing happened on the other day.

In this stage of life, I started to reckon how many changes I made and how far do I grow to be a person, whether every decision I made for the past years has its significance towards my future goals. I do make plans in life, but I feel like 2017 was actually far beyond my planning, not even in my imagination, especially the living in Japan part. I never expected to live my own life, not yet. I was supposed to struggle with my bachelor thesis, do a lot of research and write a bunch of shit so that I can graduate as soon as possible. Well, impulsive decisions make you a little more alive, somehow and I realized that decisions you make every day will guide you to a different stage of your life, whether or not you expect it to be. My ambition to come to Japan as an exchange student give me a longer time to finally realize what I really want to do in the future. I can finalized my targets for the upcoming post-graduation year and details everything I need to prepare for that. Though at some point it became a burden for my parents, some family member and even for myself, I notice that right after I come back to my safe-zone, I knew that I've grown a lot more that I wanted.

Living here, meeting many people teach me how to cherish the moment and make every second of it worthwhile. You have no chance to replay or even rewind the moment. You have rights to choose your priority, which activities you want to do, which people you want to hang out. I realized that I can't just say yes to every options, but I have to decide, be precise and firm to your own stance in order to be attractive and interesting. Meanwhile, I also need to let go of things easily. Don't over impose things beyond your control to be happened because once you don't have access to it, you can't control it. It might just not meant to be yours or not meant to be the part of your experience. Just go with the flow, you are allowed to make targets but just let it be a guidance. Don't overthink to much.
I compare myself to people I met and I realize I need to keep up with them, in terms of hobbies, interest towards one specific things, knowledge, perspective, and fundamental of life. 2018 has to be another turning point of my whole life, determinant to my goals while enjoying the ride without any barriers or expectations. The sun I see today might be the same as the one I saw yesterday and the one I will see tomorrow, but who I am today will be better than who I was then and will be improved tomorrow.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Cogito ergo sum. I think therefore I am. One of the thoughts of Descartes I had heard long before I went to college, and become more interesting when I learned more about his thinking. Although Descartes can not be specifically said to be an existentialist thinker, I think that his thoughts have influenced a person -especially me- of my being, of my presence in human form in this world. Is it true that human existence as a rational being in this world purely arises from the rationality of the individual itself? And will its existence stop at one point when individuals are tired of rationalizing its existence?
It's been 21 years, 2 months 8 days living in this world and I still have many questions and puzzles about life that I have not been able to solve until now. One of them is that, the objectivity of my existence on this mad world. When the age of 21 is considered a phase in which an individual has been able to be classified as an adult, I still barely feel the vibe of being entitled to this phase. My inner childhood still appear more often than the establishment of thinking and acting. I spend more time bombarding others with questions about a problem I should be able to solve myself. In addition, I also often question what significant things I have done during these 21 years, which bring benefits to others. There is no achievement for it, no event that can be a marker that I have become a useful individual. A starting point that keeps pushing me to ask myself. What have you done today? How significant are your effects to others? How far have you been going this far?
On the one hand, those questions are enough to maintain my existence, I asked therefore I exist. Encourage me to do something more every day. Makes me an individual who (hopefully) is better than the previous day. Maximize every potential second to make it meaningful, not just for yourself but also for others. On the other hand, there is the fear that later in time I will never be enough to answer new questions that continue to emerge, let alone to solve answers to unanswered questions. Time is running so fast, that often I feel I do not have time to relax because relaxing does not make me a productive individual. Badly, there was once a point when all forms of fatigue accumulated and made me stop struggling to find answers. I was silent, even taking a step back, and allowing the ignorance of my self-controlling existence.
Being an adult turned out to be creepy. It's scary not to get enough time to answer all the questions that come up. It is also frightening to understand that in the end we are forced to stop asking, because we know we do not have enough time to find an answer. A dozen years ago I wanted to quickly become an adult, live independently, have authority over myself. Now, stopping or even playing time becomes a more interesting option. It will be fun when we have more time to just relax and keep asking, without fear of running out of time to find answers.
But well, life goes on. It will not stop. As if one day I will fathom every points of how to be an adult.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

(Kumpulan puisi M. Aan Mansyur - Tidak Ada New York Hari Ini)
I'm still capturing the moment when I decided to upload this picture on my instagram feed. That was the day when I gave back all my trust to someone who lose it. Unfortunately, everything came to an end, as what I imagined from the very beginning. 
This evening, I am distracted by all boundaries and walls that I built for the past few months. It turned into debris by only a single call, which actually means nothing. I am lost, I am insane, but I know that everything will never be the same as it used to be. 
Even so, I hope that we can grow through what we gone through. Forget about those cheesy pinky promise 'cause it will when it meant to be.

Takarazuka, 01/10/2017. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Few days ago, one of my senior in junior highschool passed away after battling for cancer since probably last year (if I'm not mistaken). I wasn't really close to her, never even talk to her face to face, but I knew her condition, from her mother who is also my family doctor, when did she first figure out about it and how she managed to continue her life with treatments. Even it may looks a little inappropriate to retell her stories, her spirit and her passion really inspires me in facing any kinds of problem that could even take your life forever.
Moment of her death made me reflect about myself personally. As a Christian, I believe on the life after death which determined by your acts in life. Then, what goods I have done for 20 years living my life? Am I good enough to be the one placed in heaven? Am I ready to face the death? What will I do if such condition happens to me?
I salute her for being so brave and tranquility to face the death despite the fears she felt. I learn to respect my life more and do more good to people because we will never know when will we die. By doing so, I believe that on the day, I will die peacefully, as a blessing for other people, and become one of those beautiful flowers which picked first. 
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Tidak ada kebenaran yang hakiki. Apa yang menurut saya benar, belum tentu menurut orang lain benar. Semua dinilai secara subjektif, berdasarkan seberapa luas pengetahuan seseorang akan sesuatu. Subjektivitas, sebuah pandangan yang tidak bisa dilepaskan dari seorang individu yang berpikir. Subjektivitas ada sebagai hasil dari kumpulan proses-proses berpikir dan kejadian-kejadian yang dialami oleh seseorang. Proses itu berbaur menjadi satu dan menjadi sebuah pola pikir dalam diri seorang individu. Bagaimana caranya memandang sesuatu, bagaimana caranya menerima sesuatu, semua tergantung pada pola pikir yang mereka gunakan sebagai kacamata mereka.
Subjektivitas, pola pikir, atau apalah itu yang intinya adalah cara seseorang menilai sesuatu, memberi pengaruh besar bagaimana seseorang bertumbuh dan membangun relasi dengan orang lain dalam kehidupan ini. Secara normatif, individu harus mampu bertoleransi dengan individu-individu lain yang memiliki beragam latar belakang. Namun, perlu digarisbawahi bahwa bertoleransi bukan berarti 100% menerima. Menurut saya, bertoleransi lebih kepada membiarkan orang lain menjalankan apa yang dia percayai, selama itu bisa ia pertanggungjawabkan dan tidak mengganggu kepentingan umum.
Tulisan diatas murni berdasarkan asumsi saya, tanpa maksud untuk menyinggung sesuatu apalagi seseorang. Namun, tampaknya asumsi yang sebenarnya telah saya tulis sejak beberapa hari (bahkan bulan, saya tidak ingat) yang lalu ini sedang menjadi sebuah realita saat ini. Sekali lagi, saya menulis ini tidak didasarkan pada tujuan untuk menjatuhkan suatu kelompok tertentu. Ini semua murni curahan hati saya yang terlalu geram dan terlalu malas berkelana membelah samudera media sosial yang sudah terlalu overrated dan banyak dihuni oleh kaum-kaum yang rasanya tidak pernah mendengar atau bahkan mengerti apa itu literasi media. Semua orang berlomba memenangkan pertarungan opini, yang sedihnya seringkali didasarkan pada sesuatu yang hanya mereka baca sekali. Ini yang salah.
Responsif. Hal ini adalah salah satu guilty pleasure yang sulit untuk saya kontrol selama hidup saya. Saya bisa menghitung berapa kali saya mendapat masalah dengan orang lain ketika saya bertindak responsif di sosial media. Rasa ketidakpedulian dan kejenuhan dengan banyak hal yang justru membawa saya pada situasi di mana saya lebih less-responsive dan memilih untuk memikirkannya dalam otak dan jadi pikiran saya sendiri. Menurut saya ini baik, setidaknya saya tidak secara langsung membiarkan opini saya kabur secara liar lewat mulut saya, tapi saya beri dia waktu untuk bermain-main dalam otak saya, berganti pakaian menjadi dirinya yang lebih baik, baru keluar melalui mulut saya. Satu dua kali hal itu saya lewatkan. Tapi namanya manusia (alasan klise) kan tidak luput dari kesalahan, betul?
Kembali ke masalah tidak ada kebenaran yang hakiki dan subjektivitas. Di dunia yang bebas dan tanpa batas, alangkah baiknya jika kita kembali menilai diri kita dan berlaku 'sopan' seperti seorang diplomat ketika kita tidak setuju dengan argumen orang lain. Jangan menjadi orang yang responsif, terlebih dalam media sosial yang bisa dengan bebas dibaca orang lain dan tidak ada jaminan bahwa argumen yang kita buat bisa kita hapus seenaknya. Jangan merasa diri atau kelompok paling benar, karena jika semua orang benar maka tidak akan ada satu orang pun yang tinggal dalam penjara. Segala sesuatu hanya tentang sudut pandang, kacamata yang anda gunakan untuk melihat, serta seberapa banyak hal yang anda ketahui (paling tidak, jika memahami masih terlalu sukar untuk dilakukan). Banyak-banyak lah memaksimalkan fungsi mata dan telinga, kritislah terhadap sesuatu dan jangan biarkan 'kegatelan' tangan dan mulut untuk bertindak responsif menguasai diri anda.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

I love you
Through the time that we spent together
Through the sweet words you said to me
Through the affection you showed
Through the apologies for your mistakes
Through the way you held my hand
Through the way you looked into my eyes
Through the choices then you chose me
Through the beers we drank together
Through the dance we had
Through the moment we cherised
I love it just like that
No complicated reason. Just that. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Some people say that being honest to yourself is somehow harder than being honest to other people. I personally agree with that sentence, currently. I recently feel my whole life is just a lie, that made by myself. There was always a time when some bad things happened and I know that I supposed to make myself stop doing that, but I kept doing that, and that was the moment I was being dishonest to myself.
For me, being honest to yourself is not just about understanding what you want to do and do it to please yourself.  Being honest to yourself also means that you have to know and accept your weakness, while you try many things to fight with the weakness, not only let it befriended with you for your whole life. Those things are very hard to do, and I'm still struggling with that. But then, I know that those things are the key to be your true self, the genuine one, while being genuine is important for people to accept who you are.
There is an experience of me being tired of everybody. All words that came from everyone pissed me off. At the same time, I also felt tired of every routines and responsibilities I was dealing with. The combination of those things made me want to skip everything irresponsibly. Since then, I was being so ignorant and cold. I skipped everything and stopped meeting everyone, I always tried to find an alternative to run away as long as I can. At that point, I tried to find what's wrong and I assumed that it was about people surround me who were not cooperative with me. I stopped believing anyone of them and started to think that my life is suck because of them. That moment happened for several months and I feel okay with that.
Until the time when I realise that my thoughts are totally wrong, which is tonight. I feel super tired of being messed up and committed to put things back together. I start to get things done one by one, try to keep in touch with some people, and try to make my life be more settle than before. It makes me aware of what happened for the past few months. It was not them, but me, who was not being honest to my own self. I gained so much rejection for my existence that I started losing my friends, happiness, grades, self confidence, and many other things. It was me who demand too much, but not gave so much as it should be. It was me who thought that everything can be perfectly done if I do it myself without giving other people opportunity to try.
My point is, before you start judging other people screw your life, go watch yourself first, are you good enough. Treat people like how do you want to be treated, because it is somehow true that people usually treat you the way how you treat them.


I gave up, need to stick back my life and be better. It's about trying and learning everyday, and I wish I can be a better person. Stop rejecting, start accepting.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

"Do not spoil what you have by desiring what you have not; remember that what you now have was once among the things you only hopes for." - Epicurus

Many unexpected things came to me when I think that this must be a worst ending for 2014, and even 2015, but it's not. I thought that I will be ungrateful for the rest of the year, but thank God it doesn't happen to me right now. Something big just hit me and make me blushing everytime I remember it. Recently, I become more grateful for what I have now, and I can even sleep tightly last night. God gives the perfect answer at the right time, I mean it.
Been a whole three semester I kept worrying about my future because I thought that what I got is not what I really want before, and it means that I can't guarantee my bright future. I went through the whole semester heavy-hearted, with less expectation of the final result. How to leave, how to escape from those shitty things are the only thing exsist in my mind for a half year. Many things make my disappointment bigger than before. Many things make me believe that I doesn't belong here. Many things make me feel like it doesn't suit me in any ways. Unexcited about anything is my thing recently.
Despite all of my disappointments I keep inside my heart, my other side said that I'm not supposed to have another disappointment. So I unconsciously keep encouraging myself that there are many ways available to go to your destination. It is always fine to fail at some points but you can gain more at the others. I work hard and harder everytime, doing everthing to the maximum level, and even chasing everything I've been missing before. It was hard, for sure. But in fact, I keep doing it. I keep doing everything that I think doesn't suit me. I force myself to be drowned and pretend that I love what I'm learning now, politics.








Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Life is like a road, the limit is your destination
It sometimes wide, but sometimes narrow
You have to choose to turn left or right or just keep walking
You don't always have to be right, because sometimes it is better to go left
It sometimes bumpy, or hollow
It makes your vehicle degradating its function
Traffic might happens, it makes your journey problematic
You might be lost when your decision is not right
It might make you take a very long time to find the right place
Sometimes you can drag, but the other times you can't
You might have to stop at the rest area for a while
but then you have to continue your journey
It might make you feel tired, fed up, and fooled around
But remember that one thing that you have to do is
track the road, find your final destination, and enjoy
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
It is somewhat hard to believe and hard to accept when you didn't get what you extremely want. I'm not sure whether I'm aiming to high or I'm trying not to hard (probably the second one.) so I couldn't make it to that dreamy university.
So, after these past two months waiting and waiting for a new story of my life, I am finally here. I'm staying in my own bed, my own house, and my own hometown, here in Salatiga. I used to believe that my college life didn't belong to Salatiga. I used to dream that I will stay far away from my hometown and adapt with new people and new condition of life. But that's what life should be, not always as happy as we thought it would be.
I learned a lot from what I've been through, and I believe God reinforce me with His awesome plans for my life. I'm trying my best to maximize what I've got by now and fully commited to myself to achieve the best because better is not enough. Being a mediocre is just gonna make me dumped into another blackhole, yet I don't want to be dumped again.
So, let's just forget the past and move on.
Thank God that now I have many good friends here in my new university who make me feel like I'm gonna through the next three and a half year (amen!!) with a happy days. Many things are kinda disappointing to me, but I belive it will be better soon.
Most people now look down on me when they know I'm staying yet I'm more motivated and pushed to prove them wrong. That I'm not an underdog and I can do what they couldn't do, I can be what they couldn't be. I might be underneath their expectation, but wheel is spinning, and life is like a wheel. So, I am extremely sure that I will be on top, I am.

"Sometimes, what we really want right now is not something we really need." - Unknown
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Ada dua jenis bunga, bunga segar dan bunga palsu. Bunga segar itu indah, wangi, warnanya cerah, tapi tidak tahan lama, cepat busuk, setelah itu tinggal dibuang. Sedangkan bunga palsu, sama-sama indah namun tidak beraroma, warnanya pun tidak secerah bunga segar. Tapi, bunga palsu tahan lama, bisa dipakai dalam jangka waktu panjang, dan tergolong murah sehingga dapat menghemat biaya.

Kalau disuruh memilih, gue bingung. Ya, gue bingung. Depends on situation banget.. Apalagi kalau filosofi bunga ini dikaitkan dengan cinta. Cinta seperti bunga segar, atau cinta yang seperti bunga palsu?
Cinta yang seperti bunga segar berarti cinta yang segar, ceria, wangi, penuh warna, tapi cepat busuk, namun cinta itu tulus, asli. Dan cinta yang seperti bunga palsu adalah cinta yang sedikit lebih kusam, tidak beraroma, tapi awet, dan tentu saja, palsu.

Cinta dan bunga benar-benar nggak bisa disandingkan menjadi sebuah filosofi memang, karena setiap orang pasti ingin memiliki kisah cinta yang wangi, cerah, segar, tulus sekaligus tahan lama. Gue juga salah kenapa menyandingkan cinta dan bunga sebagai sebuah filosofi padahal sama sekali nggak nyambung, nggak bisa.

Tapi gue punya alasan. Cinta itu identik dengan bunga. Biasanya, cowok ngasih ceweknya bunga sebagai kado ulang tahun, atau kado perayaan hari kasih sayang. Dan mayoritas pasti ngasih bunga segar. Kelihatan indah memang, tapi para cewek nggak sadar, dibalik keindahan itu, bunga yang dikasih cowoknya itu nggak lama kemudian bakal busuk. Tapi kalau cowok mau ngasih bunga palsu, sama aja, serba salah. Filosofi serba salah. Filosofi yang bikin mati gaya.

Intinya, bukan masalah filosofi ini, bukan masalah bunga segara gampang busuk dan bunga palsu tahan lama. Tapi, bagaimana kita menyikapinya. Bagaimana cara kita memahami cinta. Bagaimana kita berusaha supaya cinta kita buat orang lain itu nggak palsu, tapi juga tahan lama. Dan satu lagi pesen gue, buat para cewek, jangan jadi negative thinking ya waktu dikasih bunga sama cowoknya. Jangan jadikan filosofi diatas tadi sebagai latar belakang, dan akhirnya kalian menolak pemberian dari cowok kalian. Jangan banget. Gue juga nulisnya juga kurang kerjaan sih, hanya sebagai pelampiasan rasa penasaran dan sedikit pemikiran hehehe :p

Satu lagi, semoga setiap kalian yang baca, yang udah punya pacar, semoga cinta kalian sama pacar kalian segar, cerah, wangi, awet, dan nggak palsu :)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Guru Biologi gue sering banget menyangkutkan pelajaran Biologi dengan nilai moral sehari-hari. Pertama kali sih gue males dengernya. Tapi setelah dipikir-pikir, gue malah dapet banyak pelajaran dari situ.

Yang paling gue favoritin adalah perumpamaan tentang seleksi alam. Sebut aja kita sebagai binatang, temen-temen kita sebagai saingan kita, dan naik kelas itu adalah salah satu bentuk seleksi alam. Kita harus berjuang demi kelangsungan hidup kita. Nah, gimana cara kita biar ikut terseleksi? Ya dengan berjuang dapet nilai bagus, saingan sama temen-temen kita. Kalo kita nggak bisa dapet nilai bagus, kita tereliminasi dan akhirnya kita nggak dapet apa-apa..

Guru itu emang paling jago bikin filosofi. Menurut gue, lebih banyak pelajaran moral yang dikasih daripada ilmu pengetahuan. Mungkin karena mereka juga udah lama menjalani hidup di dunia yang penuh warna ini yah.. Dulu waktu gue SD dan SMP gue nggak begitu merhatiin karena gue belum ngerti apa-apa. Tapi sekarang ini, gue udah bisa mengambil poin penting yang tersirat disitu, dan akan selalu gue ingat-ingat.

Oiya, gue juga punya satu quote yang bagus (walaupun yang punya quote ini adalah guru yang paling nyebelin): Orang yang tidak bisa mengendalikan emosi berarti orang bodoh, karena mereka tidak tau bagaimana menyelesaikan masalah mereka.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Cara pikir setiap orang ga harus sama kan? Dan bisa-bisanya gue bilang orang lain itu egois kalo mereka ga sepikiran sama gue? Bodoh.
Sering banget gue berpikiran kayak apa yang gue bilang diatas. Gue terlalu sering bilang orang lain egois karena mereka ga sepikiran sama gue. Awalnya, gue akan nyaman berada dideket seseorang -misalnya temen. Gue akan selalu berada dideket dia, sesering mungkin. Tapi ketika gue sadar kalau jalan pikiran kita berbeda, tujuan kita berbeda, cara pandang kita berbeda, gue akan pelan-pelan menjauh dari temen gue itu, jutekin dia, dan akhirnya bener-bener ga komunikasi lagi. Ya, itu gue.

Tapi, apa yang gue lakukan itu bener? Tentu saja tidak. Kenapa? Karena setiap orang memang memiliki cara pandangnya masing-masing. Jelas gue ga bisa ngatur semua orang biar mereka punya visi yang sama kayak gue. That's trully impossible.
Ada kalanya orang akan teguh pada pendiriannya sendiri, menyimpan masalah pribadi mereka sendiri -atau hanya dishare kepada orang yang mereka percaya- dan gue tidak tau itu. Itu jelas boleh, hak asasi. Ada banyak hal yang mungkin memang seharusnya tidak gue mengerti. Tapi, setiap gue ga tau sesuatu tentang temen gue dan temen gue yang lain tau, rasanya gue kecewa. Bukan kecewa karena gue ga tau sendiri, tapi kecewa sama diri gue sendiri karena ternyata gue belum cukup bisa dipercaya untuk menjaga rahasia orang lain. Manusiawi ya? Banget.

Tapi, walaupun itu manusiawi, itu ga baik dipelihara lama-lama dalam kehidupan kita. Karena dengan berpikiran kayak gitu, kita sama aja egois kan. Kita ga sadar, ga peka sama diri kita sendiri, kalau ternyata kita memang belum pantas dipercaya sama orang lain, kita memang belum bisa diberi sebuah rahasia -walaupun rahasia kecil- yang memang penting bagi hidup orang itu. 

Dan ketika gue bisa menulis postingan ini, harusnya gue bisa berubah. Gue bisa melakukan apa yang gue bilang disini, bukan cuma ngomong, tapi juga melakukan.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Gue jadi keinget ketika seseorang bercerita ke gue..
Dia: "Kamu tau perbedaan cewek dan cowok?"

Gue: "Banyak sih, tapi aku gatau yg kamu maksud.. Emang apa?"

Dia: "Ini tentang perbedaan pola pikir cewek dan cowok.."

Gue: "So....?"

Dia: "Cowok, otaknya dibagi jadi beberapa bagian, kayak dikasih rak. Dia akan memisah-misahkan masalah pekerjaan, cinta, pertemanan, dan masalah pribadinya. Tapi kalo cewek, mereka cuma punya satu ruang diotaknya, dan segala hal kecampur jadi satu. Itu yang menyebabkan cewek lebih sensitif.."

Gue: "........"

Dia: " Kok diem? Ngerti kan aku ngomong apa?"

Gue: "Ngerti lah.. Enak aja......"

Gue: "Kamu bener...."

Yeah, he's right.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About Me

Andiline Thea Pranasari.
Central Java, Indonesia.

Ambitious procrastinator who always try to gain better everyday. She has plenty random deep-thoughts, that's why she writes. Sometimes.

Categories

Thoughts Travel Event Japan Student Exchange Photography South Korea Thailand

recent posts

Blog Archive

  • August 2026 (1)
  • July 2021 (1)
  • September 2020 (1)
  • June 2020 (1)
  • November 2019 (1)
  • May 2019 (1)
  • January 2019 (2)
  • November 2018 (1)
  • July 2018 (2)
  • January 2018 (1)
  • October 2017 (2)
  • September 2017 (2)
  • January 2017 (1)
  • June 2016 (2)
  • April 2016 (1)
  • November 2015 (1)
  • December 2014 (1)
  • September 2014 (1)
  • August 2013 (2)
  • March 2013 (1)
  • March 2012 (2)
  • September 2011 (2)
  • April 2011 (2)
  • February 2011 (1)

Followers

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates