Tentang Subjektivitas dan Kebenaran yang Hakiki

Tidak ada kebenaran yang hakiki. Apa yang menurut saya benar, belum tentu menurut orang lain benar. Semua dinilai secara subjektif, berdasarkan seberapa luas pengetahuan seseorang akan sesuatu. Subjektivitas, sebuah pandangan yang tidak bisa dilepaskan dari seorang individu yang berpikir. Subjektivitas ada sebagai hasil dari kumpulan proses-proses berpikir dan kejadian-kejadian yang dialami oleh seseorang. Proses itu berbaur menjadi satu dan menjadi sebuah pola pikir dalam diri seorang individu. Bagaimana caranya memandang sesuatu, bagaimana caranya menerima sesuatu, semua tergantung pada pola pikir yang mereka gunakan sebagai kacamata mereka.
Subjektivitas, pola pikir, atau apalah itu yang intinya adalah cara seseorang menilai sesuatu, memberi pengaruh besar bagaimana seseorang bertumbuh dan membangun relasi dengan orang lain dalam kehidupan ini. Secara normatif, individu harus mampu bertoleransi dengan individu-individu lain yang memiliki beragam latar belakang. Namun, perlu digarisbawahi bahwa bertoleransi bukan berarti 100% menerima. Menurut saya, bertoleransi lebih kepada membiarkan orang lain menjalankan apa yang dia percayai, selama itu bisa ia pertanggungjawabkan dan tidak mengganggu kepentingan umum.
Tulisan diatas murni berdasarkan asumsi saya, tanpa maksud untuk menyinggung sesuatu apalagi seseorang. Namun, tampaknya asumsi yang sebenarnya telah saya tulis sejak beberapa hari (bahkan bulan, saya tidak ingat) yang lalu ini sedang menjadi sebuah realita saat ini. Sekali lagi, saya menulis ini tidak didasarkan pada tujuan untuk menjatuhkan suatu kelompok tertentu. Ini semua murni curahan hati saya yang terlalu geram dan terlalu malas berkelana membelah samudera media sosial yang sudah terlalu overrated dan banyak dihuni oleh kaum-kaum yang rasanya tidak pernah mendengar atau bahkan mengerti apa itu literasi media. Semua orang berlomba memenangkan pertarungan opini, yang sedihnya seringkali didasarkan pada sesuatu yang hanya mereka baca sekali. Ini yang salah.
Responsif. Hal ini adalah salah satu guilty pleasure yang sulit untuk saya kontrol selama hidup saya. Saya bisa menghitung berapa kali saya mendapat masalah dengan orang lain ketika saya bertindak responsif di sosial media. Rasa ketidakpedulian dan kejenuhan dengan banyak hal yang justru membawa saya pada situasi di mana saya lebih less-responsive dan memilih untuk memikirkannya dalam otak dan jadi pikiran saya sendiri. Menurut saya ini baik, setidaknya saya tidak secara langsung membiarkan opini saya kabur secara liar lewat mulut saya, tapi saya beri dia waktu untuk bermain-main dalam otak saya, berganti pakaian menjadi dirinya yang lebih baik, baru keluar melalui mulut saya. Satu dua kali hal itu saya lewatkan. Tapi namanya manusia (alasan klise) kan tidak luput dari kesalahan, betul?
Kembali ke masalah tidak ada kebenaran yang hakiki dan subjektivitas. Di dunia yang bebas dan tanpa batas, alangkah baiknya jika kita kembali menilai diri kita dan berlaku 'sopan' seperti seorang diplomat ketika kita tidak setuju dengan argumen orang lain. Jangan menjadi orang yang responsif, terlebih dalam media sosial yang bisa dengan bebas dibaca orang lain dan tidak ada jaminan bahwa argumen yang kita buat bisa kita hapus seenaknya. Jangan merasa diri atau kelompok paling benar, karena jika semua orang benar maka tidak akan ada satu orang pun yang tinggal dalam penjara. Segala sesuatu hanya tentang sudut pandang, kacamata yang anda gunakan untuk melihat, serta seberapa banyak hal yang anda ketahui (paling tidak, jika memahami masih terlalu sukar untuk dilakukan). Banyak-banyak lah memaksimalkan fungsi mata dan telinga, kritislah terhadap sesuatu dan jangan biarkan 'kegatelan' tangan dan mulut untuk bertindak responsif menguasai diri anda.

Comments

Popular posts from this blog

I'm in Korea. Of course, South Korea!

Road of Life

A Philosophy About Love and Flower