• Home
AndilineTheaPranasari's project. Do not copy without any permission. Powered by Blogger.
facebook twitter instagram Email

carpe diem

when life gives you lemon, suck it anyway.

Today is exactly a month after my time of reaching another decade in my lifetime, being 30 years old. There's not much of a change, but there are also a lot changes. I feel like every little part of my younger self was taken apart from who I am now, yet somehow it also creates of who I am becoming today. 

I thought, turning 30 years old means I would have everything settled. I would know everything about life, and be the most successful person I would imagine to be. Turns out, 30 is just a beginning of life. I still figuring out things, confused about things, and basically clueless about most things. And that's normal, I guess. Apparently, I don't have to figure it out to feel content about my life. Turning 30 years old is a start to discovering who you want to be, not defining who you are.

My ultimate weakness is, I still can remember a lot of mistakes I did in the past, of things I wasn't supposed to do and what not. Wise man says that it helps you to learn from it. Believe me I'm trying. However, the reality sometimes gives you a different answer, beyond the expectation. Most of the times I keep doing the same mistakes again and again. Although, I also learn a lot after the very last miserable failure. People told me I'm wise enough for my age. At the same time, I feel like the dumbest stupidest person ever in the universe, because I'm never the wisest person when it comes to the decision I make for myself. 

On this new age, there are some highlights of my life that I feel most grateful for. 

The first highlight is: my marriage. To be honest, I didn't think I would get married this early. Yes, I was 28 years old back then, and yes, it was considered too old. I didn't think about getting married at all before. And apparently, it wasn't such a bad idea to begin. I got married to my husband two years ago, and it has taught me a lot since. He is literally my anchor, the yin to my yang, the earth to my fire, and literally the fireman to every rage I had in me. We can be best friends and the worst enemy to each other at the same time. 

A scene from our engagement ceremony on December 2023

A traditional-themed pre-wedding photos that I arranged myself

A fun photoshoot around our hometown with our photographer friend

The look from the wedding ceremony morning

The look from our traditional wedding reception night

The second highlight: living in Japan (again). This one is totally not on my bingo card. When I heard the news, it felt like I got a huge gift. But here I am, with my husband, living in the southern part of Japan in a small town located between Fukuoka City and Itoshima City. It's such a wonderful little village, kinda reminded me of my hometown. The second time living here was actually a lot different from what I experienced on my fist time. It's a lot more quieter, plain I would say, kind of boring, but also exciting. I got to see more things and I've grown to love this side of the country as I get older. 




Experiencing these things (being married and moving to a new place) at the same time is my current struggle. I am constantly finding myself juggling between roles, identities, and other things that sometimes make me feel alone, isolated. I have never felt like I didn't belong anywhere But I'm still grateful for every opportunity I can get in my life up until today. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

By the time I posted this writing, I might (hopefully) be just chilling in my backyard, drinking green juice after the workout, and celebrating my day of turning 25. In the midst of this terrible situation that has been going on in the world, instead of the celebration and freneticism, I should focus more on the struggles and lessons that I've got throughout my life. I came to learn that I have lived a privileged and blessed life, given the education, house, family, support system that I have right now. Obviously, there are people living more glamorously than I am but it is not really the point. 

Setelah dilihat ke belakang, baru kelihatan bahwa sejak umur 20 saya cenderung kurang menikmati fase hidup yang saya jalani, terlalu berlarut ke masa lalu dan sibuk mempersiapkan masa depan tanpa being in the present. Saya selalu kehilangan fokus untuk menikmati setiap momen yang saya jalani saat itu. Ujungnya, saya jadi sering gegabah, terburu-buru, dan justri sibuk mencari jati diri lewat orang lain bukan dari apa yang sebenarnya disukai dan sebagaimana diri ini sebenarnya. Selama ini saya mati-matian berjuang untuk melihat dan mengagumi orang lain, berusaha menjadi mereka dan meraih prestasi seperti yang mereka raih tapi lupa melihat ke dalam. Lupa melihat passion diri yang sesungguhnya dicari. Saya sibuk melakukan banyak hal, membangun berbagai macam ambisi, mengejar ratusan prestasi hanya agar bisa 'dilihat' dan diterima orang lain. Ketika muncul pertanyaan: What is my purpose in life? Apa ya yang mau dicapai? Saya gak bisa jawab. I feel like my life for the past 25 years is simply meaningless and less significant. I don't think people remember me once I'm gone. I haven't contributed anything to the society, I couldn't even reach my goals and dreams, even keeps taking opportunities less than my targets. 

Capek? Jelas. Bahkan akhir-akhir ini saya tiba di satu titik di mana saya merasa tersesat, tidak lagi mengenal siapa diri saya, apa kesenangan saya, apa yang saya inginkan di masa depan, sulit mencari semangat untuk menjalankan hal-hal yang sebelumnya saya sangat cintai. Segala sesuatu terasa tampak lebih jelas enam sampai delapan tahun lalu ketika idealisme belum berbenturan dengan realita yang ada. Tentu setiap orang pernah mengalami fase ini, fase belajar dan berkembang menjadi seseorang. Tapi saya juga kadang heran, kenapa ya orang-orang sukses yang saya kagumi bisa terlihat effortless menjalani hidup sesuai passion mereka seolah-olah mereka sudah tau apa yang mereka inginkan sejak mereka baru lahir? Apa mereka tidak mengalami struggle yang sama dengan apa yang saya rasakan saat ini? Apakah memang saya ditakdirkan untuk selalu menjadi medioker, gak signifikan dan tidak perlu dikenal sebegitu banyak orang?

Kemungkinan besar saya salah. Kemungkinan besar apa yang saya lihat saat ini adalah masa-masa menuai mereka, sementara saya masih ada pada fase menabur dan menanam benih. Well, bisa jadi ini juga menjadi pekerjaan rumah baru dalam menapaki jenjang kehidupan selanjutnya. Di langkah baru ini, semoga saya juga bisa lebih fokus pada perkembangan diri, seek from within tanpa perlu sibuk membandingkan dengan prestasi orang lain yang terus-terusan membuat saya hilang fokus. 

Kontemplasi-kontemplasi yang terus berputar di kepala saya beberapa minggu sebelum hari ulang tahun saya ini juga membawa saya pada satu titik lain. A few weeks ago, I suddenly found a sort of enlightenment about being at peace with my past, especially berkaitan dengan orang-orang yang pernah menyakiti dan saya sakiti. Entah muncul dari mana tiba-tiba ada perasaan lega begitu dalam yang saya rasakan seolah dada saya terasa lebih lapang. Pada saat itu saya bisa melihat masa lalu tanpa perasaan sakit hati, sesuatu yang sudah lama saya impikan. Saya kemudian memberanikan diri untuk pelan-pelan merekoleksi memori dan mengembalikan hubungan saya dengan masa lalu yang sebelumnya saya simpan rapat-rapat. Surprisingly it feels somehow liberating. And by that I am ready to take a step forward, tidak lagi berada di bayang-bayang masa lalu dan menjadi lebih present. Memang masih ada kesulitan-kesulitan lain, tapi entah kenapa ada keberanian dan keyakinan lebih untuk melangkah dari titik ini.

I believe that my self-identity has changed a lot. Determined by my interaction with others, as well as my self-projection through the people I look up to, I have grown into someone I have become now. Kehidupan saya lima tahun yang lalu tentu berbeda dengan kehidupan saya saat ini. Bahkan secara drastis, ada banyak orang yang dulu ada dalam hidup saya namun sekarang tidak ada lagi. Ada mimpi-mimpi yang dulu saya pegang teguh, sekarang tidak lagi. Itu semua adalah proses hidup saya, yang ternyata berlangsung begitu cepat bahkan dalam kurun waktu yang begitu singkat. Saya menyempatkan diri bertanya ke beberapa teman yang saya anggap dekat dan sangat tau karakter saya, dan mereka lihat how I evolve into a more mature person, with less ego and more realistic. Ambisi saya tetap sama, tapi pendekatan dalam pencapaiannya lebih masuk akal. Saya masih menjadi teman yang bisa diandalkan dan perhatian. Begitulah sedikit banyak komentar yang saya dapatkan, dan saya bukan semata setuju namun lebih mengamininya. Ternyata kehadiran saya tidak se-meaningless itu. Ternyata saya masih bisa memberi makna, meskipun hanya untuk orang-orang terdekat. That's what matters. Ternyata saya tidak perlu mencari sejauh itu, justru mulai dari diri sendiri dan hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Ternyata saya tidak perlu terlalu pusing untuk memikirkan dan merancang kehidupan ideal sesuai dengan apa yang saya harapkan, namun harus lebih menikmati dan mensyukuri setiap inci dari hal-hal yang saya punya saat ini. 

Untuk itu, saya mau bilang: 

The, thank you for always standing up for yourself and your ambitions, no one can do it but yourself.  Terima kasih ya sudah berjalan, jatuh, bangkit dan berusaha untuk menjadi kamu apa adanya. Tidak pernah mudah, tapi bukan tidak penting untuk terus dijalani. Terima kasih untuk terus bersabar, meskipun di tengah jalan muncul keinginan untuk menyerah tapi kamu tidak pernah benar-benar berhenti. Jangan lupa untuk lebih sering minta maaf, berterima kasih, dan memeluk dirimu sendiri karena tidak akan ada orang lain yang bisa dan harus sayang dengan dirimu sendiri kecuali kamu. Perjalananmu masih panjang, akan jauh lebih banyak hal menarik yang menanti untuk dijalani. Istirahat secukupnya, menangis secukupnya, mengeluh secukupnya, bahagia sebanyak-banyaknya. Teruslah berpengharapan dan berusaha menjalani hari dengan penuh ucapan syukur setiap harinya. Hidupmu akan lebih bermakna melalui ucapan syukurmu atas apa yang kamu miliki saat ini. Bukan semata harus memenuhi ekspektasi orang lain. Itulah yang akan membuat hidupmu lebih berarti. Selamat ulang tahun! Selamat merayakan tahun kehidupan barumu. Semoga kamu selalu menemukan ketika mencari, dan mendapat ketika meminta, meskipun bukan di saat yang tepat seperti apa yang kamu bayangkan. 

You only have yourself, invest in it.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Bertumpu pada satu keyakinan bahwa cuaca yang baik tidak boleh dilewatkan dengan berdiam di rumah, serta perjumpaan kembali dengan teman sepelarian, kami berlima menempuh perjalanan ke daerah Ampel di mana Air Terjun Semuncar terletak. Ini bukan kali pertama saya berkunjung. Kunjungan pertama beberapa bulan yang lalu cukup berkesan karena bentang alam yang indah juga jalur menantang yang jujur sering kali membuat saya ingin menyerah di tengah. Namun, perjalanan kedua kali ini memberi kesan begitu berbeda. Selain mental dan fisik yang lebih siap, cuaca yang lebih cerah, saya juga punya keyakinan kuat dalam hati bahwa perjalanan ini akan memberi begitu banyak cerita, makna, dan refleksi. 
Kali ini kami memilih untuk menyediakan lebih banyak waktu untuk bersantai, makan indomie, ngopi dan bermain air di air terjun yang lebih kecil dan lebih sepi. Kenikmatan yang kemudian membuat hati saya terasa sangat hangat dan penuh. Jarang saya bisa menikmati alam sebagaimana adanya. Apa yang tersedia sekarang terlalu banyak dipoles untuk sesuatu yang fana. Kenyataan yang saya alami beberapa hari lalu membuat saya belajar untuk mencintai kenyataan lebih dalam lagi. To be present in reality is a form of self-love. Semenakutkan atau semenyenangkan kenyataan itu, semuanya harus dihadapi dengan hati yang ikhlas dan lapang. Itulah yang membuat langkah kita lebih pasti dan terasa jauh lebih ringan untuk dilalui. Doubts and fears are inevitable. Tinggal bagaimana kita mau mengolah itu semua menjadi semangat bagi kita untuk bergerak maju menuju kenyataan-kenyataan lainnya. Berhenti atau melangkah mundur hanya membawa kita pada posisi-posisi traumatis yang sudah pernah kita lalui sebelumnya. Hanya dengan melangkah maju kita bisa tau keindahan-keindahan yang tidak pernah kita tau sebelumnya. 
Perjalanan lalu seolah menjadi miniatur hidup saya. Berbatu, licin, berbahaya, melelahkan, dan tidak pasti. Banyak kali saya mengeluh. Sering kali saya ingin berhenti. Pada akhirnya saya memilih untuk istirahat sejenak, mengumpulkan tenaga, hingga sampai juga di mata air yang menyegarkan dan menengkan.
Terima kasih semesta untuk kebaikan-kebaikan kemarin, hari ini, juga besok. Saya masih akan mengeluh, tapi saya tidak akan berhenti. 










 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
untuk segala sesuatu ada masanya
untuk apa pun di bawah langit ada waktunya
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Enam hari lagi saya akan untuk pertama kalinya mengikuti salah satu event marathon paling tersohor di jagad perlarian Indonesia, Borobudur Marathon, untuk nomor Half Marathon. Meskipun ini bukan Half Marathon pertama, namun masih ada penasaran yang muncul, terlebih setelah benar-benar menyadari bahwa acara ini akan berlangsung minggu depan. It is a big deal. Walaupun belum punya niat untuk naik kelas setelah dua kali turun di nomor Half Marathon pada dua event lain tahun ini, tapi untuk akhirnya bisa berkesempatan jadi bagian dari acara berkualifikasi dunia ini tentu bukan main-main. Apalagi buat saya yang sebelumnya nggak pernah kepikiran untuk menjadikan lari sebagai satu kegiatan serius. Bahkan sampai bisa mengajak orang tua untuk ikut 'nimbrung'.

Melihat lagi ke tahun 2015, saat itu saya hanya menjadikan lari sebagai salah satu alternatif penurunan berat badan. Waktu itu nggak ada target sih, saya hanya sudah merasa nggak nyaman dengan kondisi badan saya sendiri hingga kemudian bertekad untuk jalan kaki ke Lapangan Pancasila yang posisinya lumayan dekat dari rumah, setiap pagi, untuk jogging kecil menggerakkan badan. Boro-boro dapat satu kilometer, berhasil memutari satu kali lapangan yang ukuran track-nya kurang lebih 300 meter tanpa jalan kaki aja saya udah bersyukur banget. Terus setiap pagi saya berkomitmen untuk olahraga. Kok ya bersyukurnya setelah empat bulan saya bisa sampai ke berat badan yang dirasa cukup bisa bikin saya nyaman dengan diri sendiri, dipadukan dengan sedikit diet. Terus fitness level badan saya juga berangsur membaik. Saya sudah bisa lari sepuluh putaran tanpa engap. Mantab gak tuh?

Selain dimanfaatkan buat ajang penurunan berat badan, saya juga sempat menjadikan lari sebagai sarana untuk 'kabur' dari masalah-masalah yang saya punya waktu itu. Kabur di sini artinya ya sejenak meliburkan otak dari kewajiban mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Lari waktu itu jadi momen paling menyenangkan karena saya punya waktu untuk berkonsentrasi sama diri saya. Meski kadang juga ditemani dengan gunjingan internal tentang tingkah polah orang-orang lain yang menggunakan fasilitas Lapangan Pancasila itu. Sekali dua kali kalau lagi super penat, bisa juga lari sambil nangis. Karena entah kenapa setiap lari saya bisa jadi lebih peka tentang diri saya, entah itu kondisi tubuh pun kondisi hati. Kalau pernah denger istilah 'running is a therapy', itu saya banget sih waktu itu.

Keniatan saya untuk menjadikan lari sebagai sebuah rutinitas nggak pernah mendorong saya untuk punya tekad lari dengan jarak yang lebih jauh, lari di jalanan, atau bahkan ikut race. Sampai akhirnya suatu waktu saya ketemu salah satu temen yang ngajak saya untuk ikut sebuah event lari di Solo. Kalau tidak salah bulan Desember 2018. Keputusan ini sedikit banyak jadi momen titik balik saya untuk mengenal lari dan pelarian dari sudut pandang berbeda. Waktu itu saya dan teman saya yang sama-sama punya banyak waktu untuk lari pagi di Lapangan Pancasila, akhirnya memutuskan untuk daftar kategori 10K sebagai permulaan. Pernah sih lari 10 kilometer, tapi itu tahun 2015 dan di track yang elevasinya lempeng aja. Tapi ya pada akhirnya saya nekat juga, berhasil menyelesaikan course tanpa begitu terseok-seok walaupun tetep pake jalan sih. Nah, keikutsertaan saya di event tersebut bukan hanya menjadi event lari pertama yang saya ikuti seumur hidup, tapi juga jadi momen pertama saya ketemu sama teman-teman komunitas yang saat ini, setahun kemudian, menjadi 'rumah' baru buat saya.

Salatiga Running Buddies namanya. Perkenalan saya dengan komunitas ini terjadi karena keberanian saya kontakan sama salah satu teman lain yang sudah gabung duluan sama komunitas ini. Waktu itu jumlah anggotanya belum seramai sekarang, tapi sudah lumayan bisa bikin rame-rame kalo ada acara lari. Saya menghampiri gerombolan mereka sehabis menyelesaikan tugas 10K saya dan mulai nimbrung sok asik, terus langsung dimasukkan ke grup whatsapp mereka. Ternyata eh ternyata, keasyikan lari itu bikin saya betah dan rajin ikut latian bareng. Gara-gara rajin lari bareng itu juga saya dipercaya untuk menjadi salah satu anggota yang mengurusi keberlangsungan konten media SRB hingga akhirnya bisa berkembang sampai beberapa ratus followers. Belum signifikan sih, tapi pelan-pelan akan jadi keluarga yang lebih besar dan lebih solid, semoga. Bersyukur sekali, karena dengan berlari saya menjadi lebih berani untuk mencoba hal baru: rute baru, elevasi baru, jarak tempuh baru, kecepatan baru, dan tentunya dengan form tubuh baru yang lebih tepat dan tidak rawan cedera. Dari SRB saya belajar bagaimana cara memelihara ambisi kecil, sekecil memperbaiki catatan waktu lari pada setiap event yang diikuti. Dari situ juga saya bertemu dan dipertemukan dengan teman baru dan teman lama. Beneran berasa punya komunitas yang jarang absen berkegiatan setiap akhir pekan. Dan saya selalu bisa menikmati setiap kelelahan karena hasilnya bisa bikin badan sehat. Dari SRB saya bisa memaknai lari bukan hanya sebagai pelarian, tetapi sebagai obat yang menguatkan jiwa kita agar lebih siap menghadapi bermacam tantangan.

Kalau anda-anda sudah mengikuti blog saya sejak lama, mungkin ingat cerita pengalaman saya menjadi manager tim basket SMA kala itu. Kecintaan dan rasa belonging yang kuat dari sebuah tim olahraga adalah sesuatu yang tidak bisa digambarkan, hanya bisa dirasakan kehangatannya. Kadang tidak begitu membara, tapi tetap meninggalkan kesan. Begitu pula dengan SRB. Saya merasakan suasana yang sama. Walaupun kadang saya sendiri harus naik turun tertatih mempertahankan kondisi tubuh saya agar tetap prima, namun berlari bisa membuat saya hidup lagi. Hidup yang penuh ambisi tapi harus tetap tau diri dan jaga kondisi. Ada sedikit perbedaan memang, waktu menjadi manager tim basket saya hanya sibuk mengurusi urusan logistik dan performa orang lain. Sekarang di SRB, saya bukan hanya mengurusi orang lain tapi juga berusaha untuk menjaga performa diri saya sendiri untuk bisa terus berkembang. Menantang.

Banyak orang bilang lari itu olahraga paling mudah dan murah. Memang betul. Saya merasakan sendiri dampaknya. Namun, semoga kemudahan dan kemurahan berlari bisa dirasakan oleh orang banyak yang ingin memulai gaya hidup lebih sehat. Semoga kemudahan dan kemurahan tersebut bisa terus diingat, bahkan oleh teman-teman komunitas, supaya kita nggak terlalu terpaku sama event bombastis dan sepatu baru, melaikan lebih menjaga kondisi diri kita bahwa running is a remedy, no matter who you are. 

#happyrunningbuddies!

Unofficial member of Salatiga Running Buddies: BRI Run Solo 2019, first race ever


Broke my virgin half marathon for 3 hours 3 mins: Jogja Marathon 2019

Second half mary of the year: 2 hours 54 mins: Tiket.com Kudus Relay Marathon

Road to Borobudur Marathon!

Usual long run view

Usual long run squad

Usual post-long run photo sesh

Share
Tweet
Pin
Share
2 comments


My first academic paper is officially published! Been enormously excited about every first times in my life, this one too. Never in my life, I imagine writing something so serious, but this one topic has been catching my attention for awhile so I decided to write about gender roles in collaboration with one of my lecturer, from whom I am inspired to read and study more things, and submitted it to a gender equality and environmental justice conference based in my university in 2017.

Presentation day of why-the-f-did-I do-this
However, I only got the opportunity to actually published the paper this year, May 1st to be exact, to a different journal base. My main concern in writing this paper was the rare condition of hearing stories about experiencing stay-at-home-father's life around the place I live. I was really interested to find out how they and their inner-circle respond to the idea of doing what considered as women's nature -as most people said, was well as taking the double roles pressures for those single-fathers out there. 
So if you are interested to know how the result is, please check the following link:

The Roles and Challenges of Stay-At-Home-Fathers in Salatiga, Central Java


Share
Tweet
Pin
Share
No comments



Untuk orang-orang yang selalu ada,
terima kasih karena selalu ada, 
selalu mendoakan, 
selalu memikirkan, 
memberi perhatian dan semangat. 
sekecil apapun
maaf karena sering kali tidak bisa selalu ada
karena di masa kehidupan saat ini, dengan kesibukan yang berbagai rupa 
percakapan sekecil apapun bisa jadi sangat berharga
dan makin sadar bahwa waktu adalah uang, sangat langka tidak perlu disia-siakan. 
banyak hal penting yang bisa dipikirkan dan dibicarakan, 
hal-hal yang membangun baik karakter, pola pikir dan wawasan, kebijaksanaan. 
membentuk hidup yang bisa membawa manfaat buat orang lain dan membawa sukacita. 
senyum. 
bahwa boleh berambisi, boleh bermimpi 
tapi jangan lupa berjuang 
dan jangan sampai mimpi itu menyakiti orang lain. 
karena ada harga yang harus dibayar. 
mengajarkan bahwa menjadi ada bukan sekadar raga tapi juga jiwa,
adalah terutama
terima kasih
untuk pelajaran tentang mempergunakan waktu dengan sebaik mungkin 
supaya setiap hal yang dilakukan bisa diselesaikan dengan efektif. 
untuk beropini dengan bijak, 
jangan ragu untuk berpendapat dan mengutarakan ideologi yang kamu percayai, 
karena dengan begitu orang bisa menilai karaktermu. 
untuk melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati
jujur pada dan tentang diri sendiri, 
itu yang akan membentuk karaktermu dan membuat orang lain menyukaimu. 
untuk menjadi rendah hati, 
utamakan orang lain, 
tapi jangan sampai lupa sama prioritas hidup; 
kadang lebih baik jalan sendiri daripada jalan bersama tapi nggak maju kemana-mana. 
manfaatkan waktu yang ada sebaik-baiknya, 
seberguna-bergunanya, 
karena belum tentu yang kamu inginkan punya dua nyawa.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About Me

Andiline Thea Pranasari.
Central Java, Indonesia.

Ambitious procrastinator who always try to gain better everyday. She has plenty random deep-thoughts, that's why she writes. Sometimes.

Categories

Thoughts Travel Event Japan Student Exchange Photography South Korea Thailand

recent posts

Blog Archive

  • August 2026 (1)
  • July 2021 (1)
  • September 2020 (1)
  • June 2020 (1)
  • November 2019 (1)
  • May 2019 (1)
  • January 2019 (2)
  • November 2018 (1)
  • July 2018 (2)
  • January 2018 (1)
  • October 2017 (2)
  • September 2017 (2)
  • January 2017 (1)
  • June 2016 (2)
  • April 2016 (1)
  • November 2015 (1)
  • December 2014 (1)
  • September 2014 (1)
  • August 2013 (2)
  • March 2013 (1)
  • March 2012 (2)
  • September 2011 (2)
  • April 2011 (2)
  • February 2011 (1)

Followers

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates