I also got a bunch experience there. The best is Cambodianesse's spirit. They have a big spirit to be better, even in the hardest situation. They influence me, they give me motivation and I need to change!
I also met many new friends there, good friends of course. They were very kind and very excited when they knew that I came from Indonesia. And until know, I still keep in touch with them :)
I feel like I want to get back. Spend my night in the night market, chat with Jessie, Tengtong, Reaksmeyk, eat the Cambodia traditional food, talk with Sophal, drink coffee at the coffee shop, walk around the hotel, and many others. I don't know why, it's just my unforgetable experience, unforgetable moment.. I miss Cambodia so much :') Oya, fyi, when I go there, the temperature is about 36 degree and that was so damn hot! There's no rain like in Indonesia.. That's why my skin is more tan now hahaha :D
picture courtesy: Fikri; Pak Sugiyarto
spot: Garuda Airlines; Phnom Penh International Airport; Angkor Holiday Hotel; 10 January 1979 Senior Highschool; Indonesia Embassy in Cambodia; Angkor Secondary School; Hun Sen High School; Floating Village; Angkor Wat; Angkor Tom; Killing Field; B.B.Q Suki Restaurant; Campey Restaurant; Lucky Mart; Sam Dakh Euv High School; Day Market
Ada dua jenis bunga, bunga segar dan bunga palsu. Bunga segar itu indah, wangi, warnanya cerah, tapi tidak tahan lama, cepat busuk, setelah itu tinggal dibuang. Sedangkan bunga palsu, sama-sama indah namun tidak beraroma, warnanya pun tidak secerah bunga segar. Tapi, bunga palsu tahan lama, bisa dipakai dalam jangka waktu panjang, dan tergolong murah sehingga dapat menghemat biaya.
Kalau disuruh memilih, gue bingung. Ya, gue bingung. Depends on situation banget.. Apalagi kalau filosofi bunga ini dikaitkan dengan cinta. Cinta seperti bunga segar, atau cinta yang seperti bunga palsu?
Cinta yang seperti bunga segar berarti cinta yang segar, ceria, wangi, penuh warna, tapi cepat busuk, namun cinta itu tulus, asli. Dan cinta yang seperti bunga palsu adalah cinta yang sedikit lebih kusam, tidak beraroma, tapi awet, dan tentu saja, palsu.
Cinta dan bunga benar-benar nggak bisa disandingkan menjadi sebuah filosofi memang, karena setiap orang pasti ingin memiliki kisah cinta yang wangi, cerah, segar, tulus sekaligus tahan lama. Gue juga salah kenapa menyandingkan cinta dan bunga sebagai sebuah filosofi padahal sama sekali nggak nyambung, nggak bisa.
Tapi gue punya alasan. Cinta itu identik dengan bunga. Biasanya, cowok ngasih ceweknya bunga sebagai kado ulang tahun, atau kado perayaan hari kasih sayang. Dan mayoritas pasti ngasih bunga segar. Kelihatan indah memang, tapi para cewek nggak sadar, dibalik keindahan itu, bunga yang dikasih cowoknya itu nggak lama kemudian bakal busuk. Tapi kalau cowok mau ngasih bunga palsu, sama aja, serba salah. Filosofi serba salah. Filosofi yang bikin mati gaya.
Intinya, bukan masalah filosofi ini, bukan masalah bunga segara gampang busuk dan bunga palsu tahan lama. Tapi, bagaimana kita menyikapinya. Bagaimana cara kita memahami cinta. Bagaimana kita berusaha supaya cinta kita buat orang lain itu nggak palsu, tapi juga tahan lama. Dan satu lagi pesen gue, buat para cewek, jangan jadi negative thinking ya waktu dikasih bunga sama cowoknya. Jangan jadikan filosofi diatas tadi sebagai latar belakang, dan akhirnya kalian menolak pemberian dari cowok kalian. Jangan banget. Gue juga nulisnya juga kurang kerjaan sih, hanya sebagai pelampiasan rasa penasaran dan sedikit pemikiran hehehe :p
Satu lagi, semoga setiap kalian yang baca, yang udah punya pacar, semoga cinta kalian sama pacar kalian segar, cerah, wangi, awet, dan nggak palsu :)
Kalau disuruh memilih, gue bingung. Ya, gue bingung. Depends on situation banget.. Apalagi kalau filosofi bunga ini dikaitkan dengan cinta. Cinta seperti bunga segar, atau cinta yang seperti bunga palsu?
Cinta yang seperti bunga segar berarti cinta yang segar, ceria, wangi, penuh warna, tapi cepat busuk, namun cinta itu tulus, asli. Dan cinta yang seperti bunga palsu adalah cinta yang sedikit lebih kusam, tidak beraroma, tapi awet, dan tentu saja, palsu.
Cinta dan bunga benar-benar nggak bisa disandingkan menjadi sebuah filosofi memang, karena setiap orang pasti ingin memiliki kisah cinta yang wangi, cerah, segar, tulus sekaligus tahan lama. Gue juga salah kenapa menyandingkan cinta dan bunga sebagai sebuah filosofi padahal sama sekali nggak nyambung, nggak bisa.
Tapi gue punya alasan. Cinta itu identik dengan bunga. Biasanya, cowok ngasih ceweknya bunga sebagai kado ulang tahun, atau kado perayaan hari kasih sayang. Dan mayoritas pasti ngasih bunga segar. Kelihatan indah memang, tapi para cewek nggak sadar, dibalik keindahan itu, bunga yang dikasih cowoknya itu nggak lama kemudian bakal busuk. Tapi kalau cowok mau ngasih bunga palsu, sama aja, serba salah. Filosofi serba salah. Filosofi yang bikin mati gaya.
Intinya, bukan masalah filosofi ini, bukan masalah bunga segara gampang busuk dan bunga palsu tahan lama. Tapi, bagaimana kita menyikapinya. Bagaimana cara kita memahami cinta. Bagaimana kita berusaha supaya cinta kita buat orang lain itu nggak palsu, tapi juga tahan lama. Dan satu lagi pesen gue, buat para cewek, jangan jadi negative thinking ya waktu dikasih bunga sama cowoknya. Jangan jadikan filosofi diatas tadi sebagai latar belakang, dan akhirnya kalian menolak pemberian dari cowok kalian. Jangan banget. Gue juga nulisnya juga kurang kerjaan sih, hanya sebagai pelampiasan rasa penasaran dan sedikit pemikiran hehehe :p
Satu lagi, semoga setiap kalian yang baca, yang udah punya pacar, semoga cinta kalian sama pacar kalian segar, cerah, wangi, awet, dan nggak palsu :)
Guru Biologi gue sering banget menyangkutkan pelajaran Biologi dengan nilai moral sehari-hari. Pertama kali sih gue males dengernya. Tapi setelah dipikir-pikir, gue malah dapet banyak pelajaran dari situ.
Yang paling gue favoritin adalah perumpamaan tentang seleksi alam. Sebut aja kita sebagai binatang, temen-temen kita sebagai saingan kita, dan naik kelas itu adalah salah satu bentuk seleksi alam. Kita harus berjuang demi kelangsungan hidup kita. Nah, gimana cara kita biar ikut terseleksi? Ya dengan berjuang dapet nilai bagus, saingan sama temen-temen kita. Kalo kita nggak bisa dapet nilai bagus, kita tereliminasi dan akhirnya kita nggak dapet apa-apa..
Guru itu emang paling jago bikin filosofi. Menurut gue, lebih banyak pelajaran moral yang dikasih daripada ilmu pengetahuan. Mungkin karena mereka juga udah lama menjalani hidup di dunia yang penuh warna ini yah.. Dulu waktu gue SD dan SMP gue nggak begitu merhatiin karena gue belum ngerti apa-apa. Tapi sekarang ini, gue udah bisa mengambil poin penting yang tersirat disitu, dan akan selalu gue ingat-ingat.
Oiya, gue juga punya satu quote yang bagus (walaupun yang punya quote ini adalah guru yang paling nyebelin): Orang yang tidak bisa mengendalikan emosi berarti orang bodoh, karena mereka tidak tau bagaimana menyelesaikan masalah mereka.