On Being 25: The Ever-changing Identity Formation

by - July 29, 2021

By the time I posted this writing, I might (hopefully) be just chilling in my backyard, drinking green juice after the workout, and celebrating my day of turning 25. In the midst of this terrible situation that has been going on in the world, instead of the celebration and freneticism, I should focus more on the struggles and lessons that I've got throughout my life. I came to learn that I have lived a privileged and blessed life, given the education, house, family, support system that I have right now. Obviously, there are people living more glamorously than I am but it is not really the point. 

Setelah dilihat ke belakang, baru kelihatan bahwa sejak umur 20 saya cenderung kurang menikmati fase hidup yang saya jalani, terlalu berlarut ke masa lalu dan sibuk mempersiapkan masa depan tanpa being in the present. Saya selalu kehilangan fokus untuk menikmati setiap momen yang saya jalani saat itu. Ujungnya, saya jadi sering gegabah, terburu-buru, dan justri sibuk mencari jati diri lewat orang lain bukan dari apa yang sebenarnya disukai dan sebagaimana diri ini sebenarnya. Selama ini saya mati-matian berjuang untuk melihat dan mengagumi orang lain, berusaha menjadi mereka dan meraih prestasi seperti yang mereka raih tapi lupa melihat ke dalam. Lupa melihat passion diri yang sesungguhnya dicari. Saya sibuk melakukan banyak hal, membangun berbagai macam ambisi, mengejar ratusan prestasi hanya agar bisa 'dilihat' dan diterima orang lain. Ketika muncul pertanyaan: What is my purpose in life? Apa ya yang mau dicapai? Saya gak bisa jawab. I feel like my life for the past 25 years is simply meaningless and less significant. I don't think people remember me once I'm gone. I haven't contributed anything to the society, I couldn't even reach my goals and dreams, even keeps taking opportunities less than my targets. 

Capek? Jelas. Bahkan akhir-akhir ini saya tiba di satu titik di mana saya merasa tersesat, tidak lagi mengenal siapa diri saya, apa kesenangan saya, apa yang saya inginkan di masa depan, sulit mencari semangat untuk menjalankan hal-hal yang sebelumnya saya sangat cintai. Segala sesuatu terasa tampak lebih jelas enam sampai delapan tahun lalu ketika idealisme belum berbenturan dengan realita yang ada. Tentu setiap orang pernah mengalami fase ini, fase belajar dan berkembang menjadi seseorang. Tapi saya juga kadang heran, kenapa ya orang-orang sukses yang saya kagumi bisa terlihat effortless menjalani hidup sesuai passion mereka seolah-olah mereka sudah tau apa yang mereka inginkan sejak mereka baru lahir? Apa mereka tidak mengalami struggle yang sama dengan apa yang saya rasakan saat ini? Apakah memang saya ditakdirkan untuk selalu menjadi medioker, gak signifikan dan tidak perlu dikenal sebegitu banyak orang?

Kemungkinan besar saya salah. Kemungkinan besar apa yang saya lihat saat ini adalah masa-masa menuai mereka, sementara saya masih ada pada fase menabur dan menanam benih. Well, bisa jadi ini juga menjadi pekerjaan rumah baru dalam menapaki jenjang kehidupan selanjutnya. Di langkah baru ini, semoga saya juga bisa lebih fokus pada perkembangan diri, seek from within tanpa perlu sibuk membandingkan dengan prestasi orang lain yang terus-terusan membuat saya hilang fokus. 

Kontemplasi-kontemplasi yang terus berputar di kepala saya beberapa minggu sebelum hari ulang tahun saya ini juga membawa saya pada satu titik lain. A few weeks ago, I suddenly found a sort of enlightenment about being at peace with my past, especially berkaitan dengan orang-orang yang pernah menyakiti dan saya sakiti. Entah muncul dari mana tiba-tiba ada perasaan lega begitu dalam yang saya rasakan seolah dada saya terasa lebih lapang. Pada saat itu saya bisa melihat masa lalu tanpa perasaan sakit hati, sesuatu yang sudah lama saya impikan. Saya kemudian memberanikan diri untuk pelan-pelan merekoleksi memori dan mengembalikan hubungan saya dengan masa lalu yang sebelumnya saya simpan rapat-rapat. Surprisingly it feels somehow liberating. And by that I am ready to take a step forward, tidak lagi berada di bayang-bayang masa lalu dan menjadi lebih present. Memang masih ada kesulitan-kesulitan lain, tapi entah kenapa ada keberanian dan keyakinan lebih untuk melangkah dari titik ini.

I believe that my self-identity has changed a lot. Determined by my interaction with others, as well as my self-projection through the people I look up to, I have grown into someone I have become now. Kehidupan saya lima tahun yang lalu tentu berbeda dengan kehidupan saya saat ini. Bahkan secara drastis, ada banyak orang yang dulu ada dalam hidup saya namun sekarang tidak ada lagi. Ada mimpi-mimpi yang dulu saya pegang teguh, sekarang tidak lagi. Itu semua adalah proses hidup saya, yang ternyata berlangsung begitu cepat bahkan dalam kurun waktu yang begitu singkat. Saya menyempatkan diri bertanya ke beberapa teman yang saya anggap dekat dan sangat tau karakter saya, dan mereka lihat how I evolve into a more mature person, with less ego and more realistic. Ambisi saya tetap sama, tapi pendekatan dalam pencapaiannya lebih masuk akal. Saya masih menjadi teman yang bisa diandalkan dan perhatian. Begitulah sedikit banyak komentar yang saya dapatkan, dan saya bukan semata setuju namun lebih mengamininya. Ternyata kehadiran saya tidak se-meaningless itu. Ternyata saya masih bisa memberi makna, meskipun hanya untuk orang-orang terdekat. That's what matters. Ternyata saya tidak perlu mencari sejauh itu, justru mulai dari diri sendiri dan hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Ternyata saya tidak perlu terlalu pusing untuk memikirkan dan merancang kehidupan ideal sesuai dengan apa yang saya harapkan, namun harus lebih menikmati dan mensyukuri setiap inci dari hal-hal yang saya punya saat ini. 

Untuk itu, saya mau bilang: 

The, thank you for always standing up for yourself and your ambitions, no one can do it but yourself.  Terima kasih ya sudah berjalan, jatuh, bangkit dan berusaha untuk menjadi kamu apa adanya. Tidak pernah mudah, tapi bukan tidak penting untuk terus dijalani. Terima kasih untuk terus bersabar, meskipun di tengah jalan muncul keinginan untuk menyerah tapi kamu tidak pernah benar-benar berhenti. Jangan lupa untuk lebih sering minta maaf, berterima kasih, dan memeluk dirimu sendiri karena tidak akan ada orang lain yang bisa dan harus sayang dengan dirimu sendiri kecuali kamu. Perjalananmu masih panjang, akan jauh lebih banyak hal menarik yang menanti untuk dijalani. Istirahat secukupnya, menangis secukupnya, mengeluh secukupnya, bahagia sebanyak-banyaknya. Teruslah berpengharapan dan berusaha menjalani hari dengan penuh ucapan syukur setiap harinya. Hidupmu akan lebih bermakna melalui ucapan syukurmu atas apa yang kamu miliki saat ini. Bukan semata harus memenuhi ekspektasi orang lain. Itulah yang akan membuat hidupmu lebih berarti. Selamat ulang tahun! Selamat merayakan tahun kehidupan barumu. Semoga kamu selalu menemukan ketika mencari, dan mendapat ketika meminta, meskipun bukan di saat yang tepat seperti apa yang kamu bayangkan. 

You only have yourself, invest in it.


You May Also Like

0 comments