"Kesuksesan sebuah tim dilihat dari managemennya.."

Terjadi banyak perubahan dalam hidup saya semenjak saya memutuskan untuk menjadi manager sebuah tim.
Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan saya beberapa waktu yang lalu bahwa saya sekarang sedang memanageri tim basket SMA Negeri 1 Salatiga (which is sekolah saya sendiri). Awalnya saya menolak keras tawaran ini dengan alasan pengin fokus sama masa depan. Eh tapi ujung-ujungnya diterima juga dengan alasan(lagi) coba-coba. Tapi saya tidak tahu, dari sekedar coba-coba itu ternyata bisa mengubah segala aspek yang ada dalam kehidupan saya.
Karena memang saya tidak mempunyai gambaran apapun akan seperti apa menjadi manager, apa yang harus dilakukan, dan modal apa saja yang saya butuhkan, karier saya sebagai manager memang benar-benar saya mulai dari nol. Saya nggak diajari apa-apa sama manager sebelumnya, paling cuma tentang teknis pendaftaran dan sebagainya, selebihnya? Saya belajar sendiri, cari referensi, dan kepentoknyya kalau memang nggak ngerti ya baru nanya. Saya melakukan apa yang saya bisa dan apa yang saya tahu sampai saya sadar, jadi manager itu nggak gampang, nggak semudah nulis di postingan ini(padahal nulis juga nggak gampang-_-)
Debut karier saya adalah ketika tim SMANSSA mengikuti turnamen basket sekolah tetangga yang diadakan tiap tahun, dan ternyata turnamen itu hampir berbarengan dengan tiga turnamen lain di luar kota. Saya kelimpungan, kenapa? Karena hadiah dari tiap turnamen sangat menjanjikan. Dan pasti ketika pertama kali jadi manager itu yang dipikir cuma duit, duit, dan duit.Duit biar bikin tim jadi kaya. Tapi ya itu tadi, ngurus satu turnamen aja nggak gampang, ini empat sekaligus. Saya juga nggak mau maruk dong. Akhirnya ya saya pilih salah satu aja yang kemungkinan menangnya besar. Dari turnamen pertama itu saya belajar sangat banyak hal. Bagaimana mengelola tim dengan baik, berhubungan sama masing-masing orang yang ada dalam tim itu sendiri, termasuk sama pelatih dan pembina. Sejak saat itu saya tiba-tiba jadi orang paling sibuk se-sekolah. Mondar-mandir sana-sini cari tanda tangan, lobi guru sana-sini, cari duit, dan lain sebagainya. Ternyata begini ya rasanya jadi manager, batin saya dalam hati. Tapi saya enjoy kok, serius deh. Capek sih memang, tapi capek itu terkalahkan sama rasa seneng bisa ngurusin orang lain, kenal sama banyak orang, jadi orang paling stunning satu sekolah karena mondar-mandir terus kekekeke~
Masalah muncul ketika saya -seorang manager pemula- dihadapkan pada masalah pelatih yang mau berhenti ngelatih karena urusan studi. Duaarr!! Saya yang belum punya pengalaman, belum kenal banyak pelatih, kelimpungan harus nyari siapa yang bersedia ngelatih SMANSSA. Demi deh, saya habis akal! Dan setelah saya kelimpungan gitu, tiba-tiba ada malaikat penyelamat datang dan menawarkan diri menjadi pelatih SMANSSA  Wah demi bumi dan langit saya sangat bahagia. Otak yang panas rasanya langsung adem disiram air es segentong.
Seiring bergantinya pelatih, berganti juga personil tim ini dikarenakan yang kelas tiga sudah harus pensiun dari tim. Alhasil saya harus melakukan recruitment pemain baru dan harus beradaptasi lagi dengan tim yang baru ini. Saya tidak pernah mengira bahwa ternyata sesulit ini untuk bisa membangun rasa kekeluargaan.
Dulu saya yang merasa di'welcome' karena semua adalah orang-orang lama di tim, cuma saya aja yang baru. Saya yang direspect sama pemain-pemain, sama pelatih juga. Tapi sekarang gantian saya yang harus ngasih welcome ke orang-orang baru ini. Bagaimana saya harus mempertahankan suasana 'rumah' yang dulu telah terbentuk tanpa bisa dihancurkan oleh orang-orang baru ini. Saya harus bikin mereka fit dan enjoy dengan suasana ini tanpa mereka tidak merasa perlu untuk mengubahnya. Saya mati-matian jungkir balik buat mempertahankan semua itu, biar sayanya juga nggak perlu banyak-banyak adaptasi.
Bersama dengan tim ini, saya, pelatih, dan pemain sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik. Belajar untuk membangun sebuah keluarga yang solid tanpa ada crash sama lain -walaupun saya tau itu nggak mungkin. Saya belajar -untuk diri saya sendiri terlebih dulu- bisa selalu peduli sama anak-anak, sama pelatih. Bisa ngurusin semua dengan baik tanpa perlu membebani pikiran orang lain. Semampu saya, karena saya udah punya cukup pengalaman untuk belajar, walaupun kadang saya masih suka bikin salah, tapi saya pengin memperbaiki managemen tim saya ini supaya pekerjaan lain di dalam tim bisa lebih lancar.
Beberapa bulan lalu saya membaca sebuah pernyataan, saya lupa itu di twitter atau blog. Tapi intinya tulisan itu berisi, "Kesuksesan sebuah tim itu bisa diukur dari keberhasilan managemen tim itu sendiri." Saya langsung merasa digampar, dan mikir betapa kacaunya managemen tim selama saya pegang. Saya nggak mau itu berkelanjutan karena saya yakin tim nggak akan maju, akan stuck di situ terus. Saya nggak mau. Akhirnya tulisan itu menyadarkan saya bahwa saya harus berusaha keras untuk bisa lebih baik, buat tim. Meminimalisir kesalahan dalam tim. Saya pengen lihat tim saya berkembang, jadi saya harus bisa berubah. Dan ketika saya pelan-pelan berubah, saya juga bisa melihat sedikit perubahan dalam tim. Ya walaupun sedikit, tapi lama-lama akan jadi bukit. Saya percaya itu.
Kemarin saya habis hectic karena baru aja ikut turnamen, ya walaupun kalah, tapi at least nambah jam terbang pemain yang baru-baru. Setelah ini saya akan segera dipusingkan dengan persiapan DBL yang akan berlangsung 18 hari lagi. Saya optimis bahwa semuanya akan berjalan lancar walaupun saya tahu banyak sekali kekurangannya. Tapi saya pelan-pelan sudah bisa menata semua itu, dengan banyak orang yang jadi back up saya, nolongin banyak hal. Coach, mantan coach yang akhirnya bantuin lagi, asisten manager, guru pembina, tim dance, pemain, dan semuanya yang saling bantu untuk membangun sebuah managemen tim yang bagus yang bisa membawa kami menuju kesuksesan. Kita semua akan mendapatkan itu, soon.



Comments

Popular posts from this blog

I'm in Korea. Of course, South Korea!

Road of Life

A Philosophy About Love and Flower